ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ اَعْطِنِيْ مَحَبَّتَكَ وَمَعْرِفَتَكَ
PostNusantara- Click( Jawa barat) Seorang murid yang memiliki ambisi untuk menjadi seorang pemimpin, sesepuh, wakil talqin atau mursyid hukumnya adalah tercela, bahkan bisa membahayakan spiritualitas dirinya dan para pengikutnya.
Dalam ajaran thoriqoh yang sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan As-Sunnah salah satunya ajaran Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyyah Pondok Pesantren Suryalaya yang dibawah bimbingan yang mulia pangersa Abah Anom, atau Thoriqoh Mutabaroh lainnya, kedudukan mursyid bukanlah pangkat duniawi yang bisa dikejar, melainkan sebuah amanah berat yang didasarkan pada ketetapan ilahi dan izin resmi dari mursyid asli sebelumnya.
Orang yang memiliki ambisi ingin menjadi mursyid atau sudah mengaku mursyid tanpa izin, jiwanya harus segera diobati, karena itu adalah racun bagi dirinya dan pengikutnya.
Para ulama sepakat bahwa dasar atau penyebab dari ambisi ingin menjadi mursyid sering kali bersumber dari penyakit hati, seperti sombong, takabur, berdusta, ingin dihormati, ingin memiliki pengikut, ingin dipandang suci, bahkan sampai rela membohongi dirinya dan umat agar keinginannya tercapai.
Fokus utama seorang murid thoriqoh yang sejati bukanlah ingin menjadi mursyid, melainkan ingin membersihkan diri dari penyakit hati agar bisa dekat dan wushul kepada Alloh SWT.
Dalam Al-Quran Alloh SWT berfirman mengenai balasan akhirat bagi orang yang tidak ambisi mencari kedudukan di bumi : “Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di bumi”.(Qs. Al-Qashash: 83).
Para ulama thoriqoh memberikan peringatan yang sangat keras bagi orang atau murid yang sengaja menonjolkan dirinya agar disebut murid terbaik dan ingin disebut atau diangkat menjadi mursyid, diantaranya yang mulia Syeikh Ibnu Atho’illah as-Sakandari.
Beliau menegaskan bahwa ambisi untuk tampil di depan publik sebelum jiwa bersih adalah tanda kehancuran spiritual : “Keinginanmu agar dikenal oleh manusia padahal Alloh belum menonjolkan dirimu, merupakan tanda dari lemahnya kemauan spiritual atau himmah”.
Yang mulia Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya’roni, beliau juga menjelaskan batasan mutlak seorang mursyid : “Seseorang tidak boleh mengklaim dirinya mursyid atau sengaja mencari-cari cara agar diikuti manusia. Orang yang ambisius memimpin thorekat biasanya digerakkan oleh nafsu ammarah yang terbungkus rapi dalam pakaian ketaatan”.
Jika ambisi tersebut didorong oleh hawa nafsu, riya, takabur, sombong dan bertujuan mencari keuntungan duniawi atau kepuasan ego maka hukumnya adalah haram.
Mursyid yang sejati atau Mursyid asli kamil mukamil adalah orang yang justru merasa takut dan lari dari jabatan tersebut.
Mereka baru akan membimbing umat ketika sudah diperintah secara tegas dan sah oleh mursyidnya, atau melalui isyarat spiritual yang sahih bukan karena mengajukan diri atau mengangkat sendiri atau diangkat oleh pengikutnya.
Jika anda atau seseorang merasa memiliki kecenderungan ingin jadi mursyid atau sudah mengaku mursyid tanpa izin resmi, para ulama menyarankan untuk :
1. Kembali memposisikan diri sebagai murid yang butuh bimbingan.
2. Memperbanyak zikir khofi untuk menekan ego atau nafsu.
3. Menyerahkan segala urusan kedudukan spiritual sepenuhnya kepada takdir Alloh dan keputusan mursyidnya atau orang kepercayaan mursyidnya saat ini.
4. Bertaubat dan meminta ma,af kepada mursyidnya.
👳Semoga kajian ini menjadi wasilah untuk kita semua mendapatkan hidayah, taufik, rahmat, maghfiroh disertai dengan mendapatkan cinta dan ridhonya Alloh SWT di dunia dan di akherat, Aamiin🤲




