PostNusantara- click (Wonosari)Perselisihan antara Lurah Banjarejo, Kapanewon Tanjungsari, Gunungkidul, dengan manajemen PT Argenta Prasada Selaras selaku pengelola destinasi wisata Watu Bolong atau On The Rock, akhirnya berakhir damai.
Momen perdamaian berlangsung di Kalahari Resto, Wonosari, Sabtu (26/9/2026). Lurah Banjarejo Dwi Haryanto menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada Komisaris PT Argenta, Tarko Sudiarno dan kuasa hukumnya. Proses tersebut dimediasi oleh Suistiyo dan dihadiri sejumlah rekan media Gunungkidul.
Dalam kesempatan itu, Dwi Haryanto secara terbuka mengakui kekeliruannya atas pernyataan yang sebelumnya menyinggung pihak PT Argenta saat peninjauan lokasi oleh warga, yang menyebut nama Tarko berkaitan dengan lahan milik PT Argenta.
Dwi menegaskan, pernyataan tersebut murni atas nama pribadi dan tidak ada kaitannya dengan jabatannya sebagai Lurah Banjarejo. Sebagai bentuk tanggung jawab, Dwi juga menyatakan kesediaannya memenuhi sembilan tuntutan klarifikasi yang diajukan pihak PT Argenta.
Salah satu poin terpenting dalam kesepakatan damai tersebut, pintu akses menuju kawasan wisata Watu Bolong dibuka kembali secara resmi dan larangan memasuki area proyek dicabut sepenuhnya.
Klarifikasi Lurah Banjarejo
Secara terpisah, Dwi Haryanto memberikan keterangan tambahan terkait duduk perkara pernyataan tersebut.
Ia menjelaskan, saat Pemerintah Daerah bersama warga masyarakat di sekitar Pantai Watu Bolong melakukan cek lapangan, ada tuntutan warga berkaitan dengan pembongkaran dan pemindahan mushola yang ada.
“Pada saat itu Pemerintah Kabupaten Gunungkidul minta penjelasan kepada saya untuk menerangkan kronologi terjadinya pembongkaran dan pemindahan mushola tersebut. Di situ saya menjelaskan karena tekanan dari beberapa pihak untuk bisa menyelesaikan masalah mushola tersebut,” ujar Dwi.
Namun, dalam penjelasan tersebut ia mengakui ada kekhilafan.
“Pada saat itu saya hilaf menyebutkan nama individu, yang seharusnya saya cukup menyebutkan nama perusahaannya saja yang sedang membangun di wilayah Pantai Watu Bolong yang ada di wilayah Kalurahan Banjarejo,” jelasnya.
Dwi menyampaikan permohonan maaf secara tulus dan menegaskan tidak ada niatan untuk menjatuhkan pihak manapun.
“Saya mengakui sebagai manusia biasa tentu saja tidak lepas dari kesalahan maka saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada beliaunya untuk dimaafkan. Klo ada yg kurang pas mohon untuk diselaraskan, yang jelas saya tidak ada niatan untuk menjatuhkan seseorang, murni kesalahan saya waktu menyampaikan,” ucapnya.
Ia berharap persoalan ini tidak berlarut-larut dan semua pihak dapat menyikapi dengan bijak demi kondusivitas bersama.
“Harapan saya selaku pribadi marilah kita sikapi semua ini dengan bijak agar baik kedepannya untuk masyarakat Kalurahan Banjarejo, masyarakat Gunungkidul, bahkan Pemerintah Daerah Gunungkidul dan juga investor yang akan menanamkan modal di Gunungkidul agar tercipta situasi yang aman, nyaman, damai untuk semuanya,” tutup Dwi.
Isu Mushola Diluruskan
Perselisihan ini sebelumnya sempat memanas hingga berujung laporan ke pihak berwajib yang dilayangkan manajemen Watu Bolong.
Di tengah polemik, mencuat pula isu pembongkaran mushola di kawasan Watu Bolong tanpa bangunan pengganti. Namun berdasarkan klarifikasi bersama kuasa hukum Tarko, Sudarmono Siringoringo didampingi Agus Kristanto dan manajemen PT Argenta, isu tersebut diluruskan.
Mushola yang dimaksud sejak awal berdiri di atas lahan milik perusahaan untuk digunakan masyarakat pesisir. Seiring rencana pengembangan kawasan wisata, mushola tersebut dipindahkan ke lokasi yang lebih strategis. Bahkan, pihak On The Rock justru membangun dua mushola baru sebagai fasilitas bagi masyarakat dan pengunjung.
Perdamaian ditutup dengan jabat tangan antara Dwi Haryanto dan pihak PT Argenta sebagai simbol berakhirnya perseteruan.
Kedua belah pihak menyatakan persoalan telah diselesaikan secara kekeluargaan dan sepakat untuk bersama-sama mendorong kemajuan Gunungkidul, khususnya melalui sektor pariwisata.
Redaksi





